DTETI UGM Ajak Universitas Mulia Kerjasama Tingkatkan Tridarma Kawal IKN

UM – Delegasi Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada melakukan kunjungan kerja di Universitas Mulia. Rombongan yang dipimpin Sekretaris Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM disambut hangat Rektor Dr. Muhammad Rusli, M.T di Ruang Eksekutif, Jalan Letjen Zaini Azhar Maulani Balikpapan, Rabu (25/1).

Tampak hadir Ir. Lukito Edi Nugroho, M.Sc., Ph.D, Syukron Abu Ishaq Alfarozi, S.T., Ph.D, Azkario Rizky Pratama, S.T., M.Eng., Ph.D, Ir. Agus Bejo, S.T., M.Eng., D.Eng., IPM, Dr. Bimo Sunarfri Hantono, S.T., M.Eng, Ir. Sigit Basuki Wibowo, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM, Ir. Prapto Nugroho, S.T., M.Eng., D.Eng., IPM, dan Naufal Hilmi Fauzan, S.Si., M.T.

Turut menyambut hangat Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, M.T.I, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Wisnu Hera Pamungkas, S.TP., M.Eng, Dekan FHK Dr. Ivan Armawan, Kepala LPPM Richki Hardi, S.T., M.Eng, Ketua Program Studi Teknologi Informasi Djumhadi, S.T., M.Kom, Kepala Biro Pusat Komputer dan Jaringan Subur Anugerah, S.T., M.Eng serta dosen lainnya.

Dalam sambutannya, Rektor berterima kasih atas kunjungan rombongan DTETI UGM Yogyakarta. Rektor kemudian memperkenalkan diri sekaligus mengenalkan beberapa dosen yang juga alumni UGM. “Terima kasih. Semoga perbincangan nanti ada solusi yang lebih bagus,” harap Rektor.

Rektor Dr. Muhammad Rusli menerima cenderamata dari Sekretaris DTETI UGM Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. Foto: Media Kreatif

Foto bersama Rektor Universitas Mulia, Wakil Rektor dan dosen bersama dengan jajaran DTETI FT UGM. Foto: Media Kreatif

Foto bersama Rektor Universitas Mulia, Wakil Rektor dan dosen bersama dengan jajaran DTETI FT UGM. Foto: Media Kreatif

Sementara itu, Lesnanto Putranto mengucapkan terima kasih atas sambutan yang hangat. “Pertama kami mengucapkan terima kasih atas sambutan yang hangat. Awalnya komunikasi by wa, sekarang komunikasi zaman canggih, akhirnya bisa ke sini dan kami senang melihat universitas di Balikpapan,” tutur Lesnanto.

Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi di Balikpapan merupakan jaminan pengembangan Sumber Daya Manusia di Kalimantan agar semakin baik. Terlebih saat ini, lanjutnya, hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tengah dalam pembangunan di Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara sudah mulai berjalan.

“Kita sebagai dosen kan punya kewajiban tridarma. Bagaimana kita bisa berkontribusi untuk itu,” tutur Lesnanto. Ia menerangkan, terkait dengan IKN, Rektor UGM Prof. Ova Emilia telah beberapa kali mengunjungi IKN. “Secara umum itu dosen diminta untuk turut mengawal pembangunan dan masa transisi di IKN,” tuturnya.

“Pembangunan fisik merupakan satu hal yang sudah biasa ya, tetapi pembangunan manusia yang juga transisi dari masyarakatnya, sosial, juga hal yang menjadi perhatian,” tuturnya.

Pada tahap awal, menurutnya, yang saat ini dilakukan adalah dengan mengidentifikasi permasalahan sebelum membentuk Smart City dan kelompok-kelompok khusus. “Kebetulan Pak Lukito banyak membidangi Smart City di seluruh Indonesia. Beliau koordinator yang ada di UGM,” tuturnya.

Menurutnya, pembangunan fisik lebih mudah dibanding dengan pembangunan manusia. “Tapi, SDM untuk menjalankan tridarma mengawal proses transisi itu kami tidak mampu. Kita bersama-sama bagaimana menggerakkan SDM yang ada di daerah bisa mengawal proses transisi,” harapnya.

Berdasarkan pengalaman yang dilakukan sebelumnya, dirinya melihat pemahaman masyarakat terkait Smart City, misalnya, masih berbeda. “Ada yang menganggap Smart City itu kota yang sangat canggih sehingga penduduk yang ada di situ akan berubah secara drastis,” ungkapnya.

Dengan asumsi tersebut, muncul kekhawatiran dari masyarakat akibat dampak perubahan drastis yang terjadi apabila Smart City betul-betul diterapkan di IKN. “Nah, hal-hal itu yang kita coba identifikasi,” tutur Lesnanto.

Berbagai masalah yang muncul lainnya, misalnya, UGM melihat masyarakat yang ada di sekitar IKN banyak yang berprofesi sebagai petani sawit. “Setelah lahannya ditebang dijadikan IKN, ya mereka memang dapat kompensasi, tetapi bagaimana mereka melanjutkan kehidupan setelahnya,” ungkapnya.

Meski demikian, secara konsep dirinya mengakui cukup mengerti dan memahami teori yang dipelajari. Namun, merasa kesulitan ketika masuk dalam tahap implementasi. Oleh karena itu, dirinya berharap kerja sama perguruan tinggi di daerah untuk turut mengawal pembangunan IKN ke depan.

(SA/Puskomjar)


admin

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *